Jumat, 28 Desember 2012
Rabu, 26 Desember 2012
Rabia'ah bin Ka'ab : Pelayan Setia Rasulullah
RABI'AH BIN KA'AB bercerita tentang
riwayat hidupnya tentang Islam.Menurutnya,dalam usia muda,jiwanya
sudah cemerlang dengan cahaya iman.Hati kecilnya sudah berisi
pengertian dan pemahaman tentang Islam.”Pertama kalai aku berjumpa
dengan Rasulullah,aku langsung jatuh cinta kepada beliau dengan
seluruh jiwa ragaku.Aku sangat tertarik kepadanya,sehingga aku
berpaling kepada beliau seorang dari yang lain,”ujarnya.
Pada suatu hari hati kecil Rabi'ah
berkata,”Hai Rabi'ah Mengapa engkau tidak berusaha untuk berkhidmat
menjadi pelayan Rasulullah? Cobalah usahakan.Jika beliau menyukaimu
engkau pasti akan bahagia berada disamping beliau dalam mencintainya
dan akan beroleh keuntungan di dunia dan akherat.”
Berkat desakan hati,ia segera
mendatangi Rasullah dengan penuh harapan beliau menerimanya untuk
berkhidmat kepadanya.Ternyata harapan Rabi'ah tidak sia-sia.Beliau
menyukai dan menerima Rabi'ah menjadi pelayannya.Sejak hari itu ia
senantiasa di samping beliau.Ia ikut kemana Rasul SAW pergi dan
selalu siap dalam lingkungan tempat beliau berada.
Tengah malam Rasulullah bangun untuk
shalat.Sering kali Rabi'ah mendengar beliau membaca surat
Al-Fatihat.Beliau senantiasa berulang-ulang sejak dari pertengahan
malam ke atas.sering pula Rabi'ah mendengar beliau
membaca”Sami'allaahu liman hamidah.” Kadang-kadang beliau
membacanya ulang dengan tempo yang lebih lama daripada jarak ulang
membaca Alfatihah.
Sudah menjadi kebiasaan
Rasulullah,jika seorang berbuat baik kepadanya,beliau lebih suka
membalasnya dengan yang paling baik.Begitulah, beliau membalas pula
pelayanan Rabi'ah kepadanya dengan yang paling baik.Pada suatu hari
mbeliau memanggil seraya berkata,”Hai Rabi'ah bin Ka'ab! ”
”Saya,ya Rasulullah!”jawabnya sambil bersiap-siap menerima
perintah beliau.”Katakanlah permintaanmu kepadaku,nanti
kupenuhi,”kata beliau.
Rabi'ah diam seketika sambil
berpikir.Sesudah Rabi'ah berkata,”Ya Rasulullah,berilah aku sedikit
waktu untuk memikirkan apa sebaiknya yang akan kuminta.Setelah itu
akan kuberitahukan kepada Anda.”Baiklah kalau begitu,”jawab
Rasulullah.
Rabi'ah seorang pemuda miskin,tidak
berkeluarga,tidak punya harta dan tidak punya rumah, tinggal di
shuffatul masjid (emper masjid),bersama-sama dengan kawan
senasib,yaitu orang-orang fakir kaum muslimin.Masyarakat menyebut
kami”dhuful Islam”(tamu-tamu) Islam.
Bila seseorang memberi sedekah kepada
Rasulullah,sedekah itu diberikan beliau kepada kami seluruhnya.Bila
ada yang memberikan hadiah kepada beliau,diambilnya sedikit dan
lebihnya diberikan beliau kepada kami,”ujarnya.
Nafsunya mendorong supaya Rabi'ah
meminta kekayaan dunia kepada beliau,agar terbebas dari kefakran
seperti orang-orang lain yang menjadi kaya,punya harta,istri,dan
anak.Tetapi,hati kecilnya berkata,”Celaka engkau,hai Rabi'ah bin
Ka,ab.Padahal,Rasulullah yang berada dekat Rabbnya, permintaannya tak
pernah ditolak.Mintalah supaya beliau mendoakan kepada Allah
kebajikan akhirat untukmu.”
Hati Rabi'ah mantap dan merasa lega
dengan permintaan seperti itu.Kemudian aku datang kepada
Rasulullah,lalu beliau bertanya,”Apa permintaanmu,wahai Rabia'ah?”
Jawabku,”Ya Rasulullah!Aku memohon semoga Anda sudi mendoakan
kepada Allah Taala agar aku teman Anda di surga.”
Agak lama juga Rasulullah
terdiam.Sesudah itu barulah beliau berkata,”Apakah tidak ada lagi
permintaanmu yang lain?” Jawabku,”Tidak,ya Rasulullah!Rasanya
tidak ada lagi permintaan yang melebihi permintaan tersebut bagiku.”
“Kalau begitu bantulah saya dengan
dirimu sendiri.Banyak-banyaklah kamu sujud,”kata Rasulullah. Sejak
itu,Rabi'ah bersungguh-sungguh beribadah,agar mendapatkan keuntungan
menemani Rasulullah di surga sebagaiman ke untungannya melayani
beliau di dunia.Tidak berapa lama kemudian Rasulullah memanggil
Rabi'ah,katanya,”Apakah engkau tidak hendak menikah,hai Rabi'ah?”
Jawabnya,”Aku tidak ingin ada sesuatu yang menggangguku dalam
berkhidmat kepada Anda,ya Rasulullah.Di samping itu,aku tidak
mempunyai apa-apa untuk mahar kawin,dan untuk kelangsungan hidup atau
tegaknya rumah tangga.
Rasulullah diam saja mendengar
jawanbannya.Tidak lam kemudian beliau memanggilnya kali yang
kedua.Kata beliau,”Apakah engkau tidak ingin menikah,ya Rabi'ah?”
Rabi'ah menjawab seperti jawaban yang pertama.Tetapi setelah Rabi'ah
duduk sendiri,Rabi'ah menyesal.Ia berkata kepada diri sendiri,”celaka
engkau hai Rabi'ah! Mengapa engkau menjawab begitu? Bukankah
Rasulullah lebih tahu apa yang baik bagimu mengenai agama maupun
dunia,dan beliu lebih tahu daripada kamu tentang dirimu sendiri? Demi
Allah jika Rasulullah memanggilku lagi dan bertanya maslah kawin,akan
kujawab,ya.”
Memang tidak berapa lama kemudian
Rasulullah menanyakan kembali,”Apakah engkau tidak hendak
menikah,hai Rabi'ah?” Jawabnya,”tentu,ya Rasulullah!
Tetapi,siapakah yang mau kawin denganku, keadaanku seperti yang Anda
maklumi.” Kata Rasulullah,”Temuilah kulurga Fulan.Katakan kepada
mereka Rasulullah menyuruh menyuruh kalian menikahkan anak perempuan
kalian,si Fulanah dengan engkau.”
Dengan malu-malu Rabi'ah datang ke
rumah mereka.Lalu kukatakan,”Rasulullah mengutusku ke sini,kalian
mengawinkan denganku anak perempuan kalian si Fulanah.”
Jawabku,”Ya,si Fulanah?” Kata mereka,”Marhaban,bi Rasulillah,wa
marhaban bi rasuli Rasulillah!”(Selamat datang ya Rasulullah dan
selamat datang utusan Rasulullah).Demi Allah! Utusan Rasulullah tidak
boleh pulang,kecuali stelah hajatnya terpenuhi!” Lalu,mereka
nikahkan aku dengan anak gadisnya.Sesudah itu aku datang menemui
Rasulullah.Kataku,”Ya Rasulullah! Aku telah kembali dari rumah
keluarga yang baik.Mereka mempercayaiku,menghormatiku,dan menikahkan
anak gadisnya denganku.Tetapi,bagaiman aku harus membayar mahar mas
kawinnya?”
Rasulullah memanggil Buraidah ibnu
al-Kasib,seorang sayyid di antara beberapa sayyid dalam Bani
Aslam.Kata beliau,”Hai,Buraidah! Kumpulkan emas seberat biji
kurma,untuk Rabi'ah bin Ka'ab!” Mereka segera melaksanakan perintah
Rasulullah tersebut.Emas sudah terkumpul,kemudian Rasulullah
berkata,”Berikan emas ini kepada mereka.katakan,ini mahar kawin
anak perempuan kalian.” Rabi'ah pergi mendapatkan mereka,lalu
diberikanlah emas itu seagaiman dikatan Rasulullah.Mereka sangat
senang dan berkata,”Bagus,banyak sekali!” ia lantas kembali
menemui Rasulullah.Katanya,”belum pernah kutemui suatu kaum yang
sebaik itu.Mereka senang sekali menerima emas yang aku berikan.
Walaupun sedikit,mereka mengatakan,Bagus,banyak sekali!' Sekarang,
bagaiman pula caranya aku mengadakan kenduri,sebagai pesta
perkawinanku?Dari mana aku akan mendapatkan biaya,ya Rasulullah?”
Rasulullah berkapa kepada
Buraidah,”Kumpulkan uang seharga seekor kibasy,beli kibasy yang
besar dan gemuk!” Kemudian Rasulullah berkata kepada Rabi'ah,”Temui
Aisyah Minta kepadanya gandum seberapa ada padanya.” Rabi'ah lantas
datang menemui Aisyah Ummul Mukminin.Katanya,”Ya,Ummul Mukminin!
Rasulullah menyuruhku minta gandum seberapa yang ada pada ibu.”
Aisyah menggantangi gandum yang tersedia itu di rumahnya. “Inilah
yang ada pada kami,hanya ada tujuh gantang.Demi Allah! Tidak ada lagi
selain ini,bawalah!” Jawab Aisyah.
Rabi'ah pergi kerumah istrinya
membawa kibasy dan gandum.Kata mereka,”Biarlah kami yang memasak
gandum.Tetapi kibasy,sebaiknya Anda serahkan kepada kawan-kawan Anda
memasaknya. Rabi'ah dan beberapa orang suku Aslam mengambil kibasy
tersebut,lalu menyembelih dan mengulitinya,sesudah itu dimasak
bersama-sama.Kini sudah tersedia roti dan daging untuk kenduri
perkawinan Rabi'ah,beliau datang memenuhi undanganku.Alhamdulillah.
Kemudian,Rasulullah menghadiahkan
sebidang kebun kepada rabi'ah berbatasan dengan kebun Abu Bakar
Shidiq.Dunia kini memasuki kehidupan Rabi'ah.Shingga,ia sempat
berselisih dengan sahabat senior Abu bakar Shidiq,mengenai sebatang
pohon kurma.Menurut Rabi'ah kurma itu berada dalam kebunnya,jadi
miliknya.Sementara kata Abu Bakar,tidak,kurma itu berada dalam kebun
Abu Bakar dan menjadi miliknya.Rabi,ah tetap ngotot dan
membantahnya,sehingga Abu Bakar mengucapkan kata-kata yang tak pantas
didengar.Setelah Abu Bakar sadar atas keterlanjurannya mengucapkan
kata-kata tersebut,ia menyesal dan berkata kepada Rabi'ah “Hai
Rabi'ah! Ucapkan pula kata-kata seperti yang saya lontarkan
kepadamu,sebagai hukuman (qishsh) bagiku!” Jawabku,”Tidak!Aku
tidak akan mengucapkannya!” Kata Abu Bakar,”Saya adukan kamu
kepada Rasulullah,kalau engkau tidak mau mengucapkannya!”Lalu dia
pergi menemui Rasulullah.
Kaum Bani Aslam mencela sikap
Rabi'ah.Kata mereka,”Bukankah dia yang memakimu terlebih
dahulu?Kemudian dia pula yang mengadukanmu kepada Rasulullah?”
Rabi'ah menjawab,”Celaka kalian!Tidak tahukah kalian siapa dia?
Itulah”Ash-Shidiq”,sahabat terdekat Rasulullah dan orang tua kaum
muslimin.Pergilah kalian segera sebelum dia melihat ramai-ramai
disini.Aku khawatir kalau-kalau dia dia menyangka kalian hendak
membantuku dalam masalah ini sehingga dia menjadi marah. Lau dalam
kemarahanya dia datang mengadu kepada Rasulullah.Rasulullah pun akan
marah karena kemarahan Abu Bakar.Karena kemarahan beliau berdua,Allah
akan marah pula,akhirnya yang si Rabi'ah yang celaka?” Mendengar
kata-kata Rabi'ah,merekapun pergi.Abu Bakar bertemu dengan
Rasulullah,lalu diceritakannya kepada beliau apa yang terjadi antara
Rabi'ah dengan Abu Bakar,sesuai dengan fakta.Rasulullah mengangkat
kepala seraya berkata pada Rabi'ah,”Apa yang terjadi antaramu
dengan Shidiq?”
“Ya Rasulullah! Beliau
menghendakiku mengucapkan kata-kata makian kepadanya,seperti yang
diucapkannya kepadaku.Tetapi,aku tidak mau mengatakannya,”jawab
Rabi'ah. Kata Rasulullah,”Bagus!” jangan ucapkan kata-kata
itu.Tetapi,katakanlah,”Ghaffarallahu li Abi Bakar (Semoaga Allah
mengapuni Abu Bakar).Abu Bakar pergi dengan air mata berlinang,sambil
berucap,” Jazaakallahu khairan,ya Rabi,ah bin Ka'ab.”(Semoga
Allah membalas engkau dengan kebajikan, hai Rabi'ah bin Ka'ab).#
#dari berbagai sumber#
BULAN
MATAHARI boleh saja menyebut dirinya
sebagai:Sang Surya.Tapi Bulanlah yang punya nama lebih dari satu.Ada
bulan Purnama,Hilal,Bulan Separuh Semangka,Bulan Pisang,Bulan
Sabit,Bulan Keemasan.Apalagi dengan makna yang tidak
sebenarnya,tanggung bulan,datang bulan,atau bulan-bulanan.
Ketika aku pergi,ditengah padang
rumput yang luas.Malam hari,di antara ribuan kelip di antariksa
cahaya bulan pun menemani.Perasaan akan terasa damai bila diantara
keremangan malam,kita tengah sendiri lalu menatap bulan.Ternyata kita
tak sendiri ketika malam cahaya bulan senantiasa menemani.Bila
mendung,bulan memang tak terlihat,tapi pantulan cahayanya menerobos
diantara awan mendung.
Di malam hari bangunlah berwudlu dan
tatapan ke angkasa raya.Di antara ribuan cahaya di jagat raya Anda
akan melihat bulan.Pernahkah Anda bercakap-cakap dengan bulan.Dia
teman curhat yang baik.Dan bulan saksi abadi bagi malam hari.
Salah satu ciri orang shalih adalah
berteman dengan bulan.Dia akrab dengan malam,sayangnya malam dan
siang kita temui setiap hari.Rutinitas ini menjadi hal yang
biasa.Padahal malam adalah momentom sangat berharga bagi mereka yang
menginginkan keridhaan Allah SWT.Dalam sebuah hadis
diriwayatkan,”Sesungguhnya Rasulullah saw.membenci tidur sebelum
Isya dan membeci obrolan setelah Isya.”(Muttafaqun Alaih).
Syeikh Nashirudidin al-Albani
menjelaskan bahwa boleh seorang muslim tidak segera tidur setelah
shalat Isya dengan catatan yang diobrolkan adalah hal-hal yang
positif,seperti mengulang-ulang pelajaran,menceritakan orang-orang
shalih.Menikmati bulan berteman dengan malam sungguh indah.Ketika
semua ternyenyak,bangunlah dan tatap ke angkasa,Anda akan merasakan
kekuatan Maha Dasyat yang meresapi dalam aliran darah dan menjadi
energi di pagi hari.
“Sesungguhnya orang-orang yang
bertakwa ada di dalam surga dan dekat dengan air yang mengalir.Sambil
mengambil apa yang diberi oleh Tuhan mereka.Sesungguhnya mereka
sebelum ini di dunia adalah orang-orang yang berbuat baik,Mereka
sedikit sekali tidur di waktu malam.Dan di akhir-akhir malam mereka
memohon ampun kepada Allah.”(Surah az-Zariat ayat 15-18).
Selasa, 25 Desember 2012
# SEBUNGKUS COKELAT #
TANGAN Jueni terus mengayunkan sabit,memotong ranting-ranting kering pohon kakao yang tumbuh merangas.Sengatan sinar matahari yang membakar kulit seakan tak dirasakan,saat ia menyibak dengan hati-hati buah yang bergelantungan.
Sembari memangkas,Jueni menghitung,ada lima buah.Pohon yang satu ini berbuah lumayan,pikirnya.Pohon-pohon kakao yang,hanya berbuah paling banyak tiga.
Sebelum beranjak dari tempat itu,Jueni memandangi lagi pohon-pohon kakao miliknya.
Sesampainya dirumah,Jueni menyisipkan sabit dibelakang rumahnya yang terbuat dari geribik bambu.Ia lalu ke sumur dan menimba air untuk membasuh muka dan tangan.Dibukanya pintu dapur,dan lansung menuju keruang tengah sekaligus ruang tamunya.Di sana,di amben bambu yang reot,anaknya laki-laki terbaring berselimutkan kain jarik.Ia raba dahi anaknya.Masih panas.
"Bapak?"kata anaknya sembari membuka mata saat merasakan tangan basah ayahnya di dahinya.
"Mulutku pahit,Pak,"kata anaknya menggigil.
Jueni lalu kedapur,ia ambil sesedok gula pasir dari stoples plastik.Lalu ia suapkan ke mulut anaknya.tanpa membuka mata,anaknya menjulurkan lidah untuk mengecap manisnya gula.
"Uhuk-uhuk....!! anaknya terbatuk saat butiran gula itu masuk ke tenggorokan.
"Pak,pengen makan cokelat,"kata anaknya.
Jueni terdiam.Di samping kepala anaknya,tampak pembungkus cokelat yang sudah tidak ada lagi isinya.Cokelat itu pemberian kawan anaknya yang sekolah di kelas 1 di SD Inpres.Di ambilnya pembungkus itu.lalu ia kegantungan baju.Dari saku baju itu,ia mengambil uang.Dia hitung ada Rp 4.000.Ia berpikir,apakah akan menunggu istrinya yang sedang menjual 2 kilo biji kakao.Namun,anaknya ia lihat terus menggigil dan mengecap-ngecapkan lidah karena kepahitan.Jueni tak tahan.
Dengan membawa pembungkus cokelat dan uang Rp4.000,ia lalu keluar.
Sesampainnya di minimarket,jueni langsung menyerahkan pembungkus itu ke pelayan yang ramah.Pelayan itu lalu mengambil cokelat yang sama dengan pembungkus itu.Di kasir,pelayan menghitung."Dua belas ribu,Pak,"kata pelayan itu.
Jueni terdiam.Uangnya tidak cukup membeli cokelat.Jueni mengusap matanya yang mulai basah oleh air mata.Ia lalu pulang tanpa membawa cokelat yang di inginkan anaknya.Petani cokelat ini,tak mampu membeli cokelat untuk anaknya yang sedang meriang.#
@#@#$#$@#@%#$%@
TANGAN Jueni terus mengayunkan sabit,memotong ranting-ranting kering pohon kakao yang tumbuh merangas.Sengatan sinar matahari yang membakar kulit seakan tak dirasakan,saat ia menyibak dengan hati-hati buah yang bergelantungan.
Sembari memangkas,Jueni menghitung,ada lima buah.Pohon yang satu ini berbuah lumayan,pikirnya.Pohon-pohon kakao yang,hanya berbuah paling banyak tiga.
Sebelum beranjak dari tempat itu,Jueni memandangi lagi pohon-pohon kakao miliknya.
Sesampainya dirumah,Jueni menyisipkan sabit dibelakang rumahnya yang terbuat dari geribik bambu.Ia lalu ke sumur dan menimba air untuk membasuh muka dan tangan.Dibukanya pintu dapur,dan lansung menuju keruang tengah sekaligus ruang tamunya.Di sana,di amben bambu yang reot,anaknya laki-laki terbaring berselimutkan kain jarik.Ia raba dahi anaknya.Masih panas.
"Bapak?"kata anaknya sembari membuka mata saat merasakan tangan basah ayahnya di dahinya.
"Mulutku pahit,Pak,"kata anaknya menggigil.
Jueni lalu kedapur,ia ambil sesedok gula pasir dari stoples plastik.Lalu ia suapkan ke mulut anaknya.tanpa membuka mata,anaknya menjulurkan lidah untuk mengecap manisnya gula.
"Uhuk-uhuk....!! anaknya terbatuk saat butiran gula itu masuk ke tenggorokan.
"Pak,pengen makan cokelat,"kata anaknya.
Jueni terdiam.Di samping kepala anaknya,tampak pembungkus cokelat yang sudah tidak ada lagi isinya.Cokelat itu pemberian kawan anaknya yang sekolah di kelas 1 di SD Inpres.Di ambilnya pembungkus itu.lalu ia kegantungan baju.Dari saku baju itu,ia mengambil uang.Dia hitung ada Rp 4.000.Ia berpikir,apakah akan menunggu istrinya yang sedang menjual 2 kilo biji kakao.Namun,anaknya ia lihat terus menggigil dan mengecap-ngecapkan lidah karena kepahitan.Jueni tak tahan.
Dengan membawa pembungkus cokelat dan uang Rp4.000,ia lalu keluar.
Sesampainnya di minimarket,jueni langsung menyerahkan pembungkus itu ke pelayan yang ramah.Pelayan itu lalu mengambil cokelat yang sama dengan pembungkus itu.Di kasir,pelayan menghitung."Dua belas ribu,Pak,"kata pelayan itu.
Jueni terdiam.Uangnya tidak cukup membeli cokelat.Jueni mengusap matanya yang mulai basah oleh air mata.Ia lalu pulang tanpa membawa cokelat yang di inginkan anaknya.Petani cokelat ini,tak mampu membeli cokelat untuk anaknya yang sedang meriang.#
@#@#$#$@#@%#$%@
Senin, 24 Desember 2012
STANDING PARTY'
BEBERAPA kali mendatangi kenduri perkawian
teman,ada yang menarik.Gedung mewah,undangan banyak,makanan
berlimpah,dan sajian musik yang bagus.Sayang,tren sekarang "standing
party" alias makan berdiri.Tak banyak kursi yang disediakan si empunya
hajat.Saya maklum,sekarang zaman modern.
Pesta perkawinan di gedung banyak dikonsep standing party.Si empunya hajat sih via master ceremony sudah minta maaf kalau konsep ini menjadikan tetamu pada berdiri,
termasuk saat menegu minuman dan mengudap makanan.
Buat saya,standing party itu kurang menghargai tamu.Alangkah banyak orang tua yang datang dan terpaksa berdiri satu hingga tiga jam di acara yang berkonsep Barat itu. Kasihan mereka menahan beban tuh yang kian renta karena berdiri.Apa sih susahnya menyiapkan kursi yang refresentatif.Toh gedungnya maha luas.Jangan sampai karena ikut tren,tuan rumah tidak menghormati tamu.Tamu itu urgen dalam setiap kendurian.Bayangkan kalau satu orang pun tak ada yang mau datang.Sebuah pesta menjadi tidak berarti.Justru tetamu itulah yang membuat pesta berkesan.Saat menyalami mempelai mereka ikut mendoakan.
Sebuah pesta yang sakral semestinya dijaga juga upaya menghargai tamu,termasuk juga menyiapakan kursi yang banyak.Meski sudah diniatkan standing party,lihat saja alangkah banyak tamu yang makan tetap duduk.Entah disudut-sudut gang,anak tangga,bahkan di selasar gedung.Beberapa malah membawa makanan ke mobil dan motornya.Itu bukti satnding party itu tidak pas di Indonesia.
Apa sih susahnya menyiapkan kursi.Toh gedung mahal saja sanggup dibayar,masak sekedar kursi tak mau menyiapkan.Ini Indonesia,bukan negeri Paman Sam atau Eropa.
Jadi,pestanya juga disesuaikan dengan kultur masyarakat setempat.
Tamu yang datang memang sadar penuh bahwa wajib datangjib hukumnya datang jika diundang.Tapi tetamu juga wajib dimanusiakan,dihargai,dan diberikan kursi.Jadinya klop.
Tamu datang dengan ungkapan syukur,tuan rumah juga menjamu tetamu dengan pantas dan manusiawi. ###
Pesta perkawinan di gedung banyak dikonsep standing party.Si empunya hajat sih via master ceremony sudah minta maaf kalau konsep ini menjadikan tetamu pada berdiri,
termasuk saat menegu minuman dan mengudap makanan.
Buat saya,standing party itu kurang menghargai tamu.Alangkah banyak orang tua yang datang dan terpaksa berdiri satu hingga tiga jam di acara yang berkonsep Barat itu. Kasihan mereka menahan beban tuh yang kian renta karena berdiri.Apa sih susahnya menyiapkan kursi yang refresentatif.Toh gedungnya maha luas.Jangan sampai karena ikut tren,tuan rumah tidak menghormati tamu.Tamu itu urgen dalam setiap kendurian.Bayangkan kalau satu orang pun tak ada yang mau datang.Sebuah pesta menjadi tidak berarti.Justru tetamu itulah yang membuat pesta berkesan.Saat menyalami mempelai mereka ikut mendoakan.
Sebuah pesta yang sakral semestinya dijaga juga upaya menghargai tamu,termasuk juga menyiapakan kursi yang banyak.Meski sudah diniatkan standing party,lihat saja alangkah banyak tamu yang makan tetap duduk.Entah disudut-sudut gang,anak tangga,bahkan di selasar gedung.Beberapa malah membawa makanan ke mobil dan motornya.Itu bukti satnding party itu tidak pas di Indonesia.
Apa sih susahnya menyiapkan kursi.Toh gedung mahal saja sanggup dibayar,masak sekedar kursi tak mau menyiapkan.Ini Indonesia,bukan negeri Paman Sam atau Eropa.
Jadi,pestanya juga disesuaikan dengan kultur masyarakat setempat.
Tamu yang datang memang sadar penuh bahwa wajib datangjib hukumnya datang jika diundang.Tapi tetamu juga wajib dimanusiakan,dihargai,dan diberikan kursi.Jadinya klop.
Tamu datang dengan ungkapan syukur,tuan rumah juga menjamu tetamu dengan pantas dan manusiawi. ###
Selasa, 10 April 2012
LARAS BAHASA,,, Lampost 11-04-2012
"Japri"
oleh : Adian Saputra
BEBERAPA teman menggunakan kata "japri" saat ada info yang sifatnya sangat pribadi di jejaring sosial dan group BlackbeBerry Mesenger.Awalnya saya tidak ngeh,apa sih japri itu.Kalau japra sih tahu.Biasanya,lema itu dipakai saat mengumpat teman yang rada kurang nyambung saat diajak ngobrol.”Ah,kamu mah japra,gitu aja ngak tahu.''Demikian kata japra itu digunakan dalam bahasa lisan.
Tapi japri ini apa?istri saya yang memberi tahu.Ternyata, japri itu akronim dari”jaringan pribadi”.Maksudnya untuk hal yang sifatnya privasi,informasi jangan disampaikan ke ruang terbuka.Lebih baik hal itu disampaikan secara pribadi.Japri itu namanya.
Misalnya menanyakan hal yang pribadi di grup pertemanan di Facebook atau grup BlackBerry Messenger,Lebih baik kita kirim pesan saja ke kotak pribadi di jejaring sosial atau nomer ponsel pribadinya.Saya kemudian mengerti,rupanya itulah makna japri.
Tapi japri ini apa?istri saya yang memberi tahu.Ternyata, japri itu akronim dari”jaringan pribadi”.Maksudnya untuk hal yang sifatnya privasi,informasi jangan disampaikan ke ruang terbuka.Lebih baik hal itu disampaikan secara pribadi.Japri itu namanya.
Misalnya menanyakan hal yang pribadi di grup pertemanan di Facebook atau grup BlackBerry Messenger,Lebih baik kita kirim pesan saja ke kotak pribadi di jejaring sosial atau nomer ponsel pribadinya.Saya kemudian mengerti,rupanya itulah makna japri.
Jadul banget ya?japri saja tidak tahu.
Jadul juga akronim lo,jaman dulu.Tulisan “jaman”-nya sudah pasti salah,karena yang betul ialah ''zaman”.cuma kalau bilang zadul sepertinya lisan kurang enak.Agak gimana gitu.
Jadul juga akronim lo,jaman dulu.Tulisan “jaman”-nya sudah pasti salah,karena yang betul ialah ''zaman”.cuma kalau bilang zadul sepertinya lisan kurang enak.Agak gimana gitu.
Memang masyarakat kita,dibantu dengan media massa,piawai menyingkat gabungan kata atau mengakronimkanya.Di Detikcom saja,untuk menyingkat tim sukses,dibuat timses.Barangkali ini merujuk pada timsel untuk tim seleksi,timwas untuk tim pengawas.
Ada yurisprudensi juga rupanya dalam pembentukan kata baru dalam ranah literasi kita.
Heranya,tidak semua bentukan baru di sambut hangat para penutur.Ada yang baik,tapi kurang acap dipakai.Misalnya surat elektronik yang diakronimkan dengan “surel”.Ini sebetulnya bagus karena berusaha mengindonesiakan e-mail.Benar,kan? Justru dengan menggunakan surel,kita mencoba menempatkan bahasa indonesia dalam makam yang pantas .Tetapi cuma sedikit yang menggunakannya. Semua kantor masih akrab dengan “e-mail” ketimbang “surel”. Cuma di kantor Bahasa Provinsi Lampung saja saya menemukan diksi surel itu.
Ya,bahasa memang luwes sekali.Begitu ada akronim yang enak didengar,gampak diucapkan,maka memasyarakatlah itu.Kita kini akrab dengan “cekal” sebagai diksi sendiri,padahal berawal dari akronim cegah tangkal.Juga dengan rudal yang bentukan baru dari peluru kendali. Juga dunia seni akrab dengan “sendratari” yang dulunya akronim dari seni drama dan tari.Ah,biarlah. Toh semua untuk publik.Kalau ada yang pribadi,silahkan di-japrikan-kan saja.Wallahualam bissawab.
Ada yurisprudensi juga rupanya dalam pembentukan kata baru dalam ranah literasi kita.
Heranya,tidak semua bentukan baru di sambut hangat para penutur.Ada yang baik,tapi kurang acap dipakai.Misalnya surat elektronik yang diakronimkan dengan “surel”.Ini sebetulnya bagus karena berusaha mengindonesiakan e-mail.Benar,kan? Justru dengan menggunakan surel,kita mencoba menempatkan bahasa indonesia dalam makam yang pantas .Tetapi cuma sedikit yang menggunakannya. Semua kantor masih akrab dengan “e-mail” ketimbang “surel”. Cuma di kantor Bahasa Provinsi Lampung saja saya menemukan diksi surel itu.
Ya,bahasa memang luwes sekali.Begitu ada akronim yang enak didengar,gampak diucapkan,maka memasyarakatlah itu.Kita kini akrab dengan “cekal” sebagai diksi sendiri,padahal berawal dari akronim cegah tangkal.Juga dengan rudal yang bentukan baru dari peluru kendali. Juga dunia seni akrab dengan “sendratari” yang dulunya akronim dari seni drama dan tari.Ah,biarlah. Toh semua untuk publik.Kalau ada yang pribadi,silahkan di-japrikan-kan saja.Wallahualam bissawab.
* Wartawan Lampung Post*
Jumat, 09 Maret 2012
Penyemangat Diri
Melangkah,,,merangkak,,
Menyusuri jalan mengejar segala mimpi juga cita-cita
tertinggal juga terjunggal,,,tapi cepat tersadar
Berusaha untuk bisa sejajar,,,
Menangis merintih,,,hati terasa perih,,,
Tapi semangat tetap menyala
Seketika bangkit berbarengan dengan puisi dan melodi,,
Pasrah dengan keadaan tapi tak berputus asa,
Lelah tapi tetap tidak menyerah
Melangkah,,,meski dengan setapak
Tapi yakin kelak kan kudekap,,,
Meski sulit,berkelit,licin melilit lilit,,,
Tetap mengalir seperti air ,bersama angin semilir,,,,
Mata berkaca-kaca menahankan dahaga dengan tabah
Tak putus dan henti mengucap doa serta harap,,,
Moga langkah ini tetap pada tujuan mulia,
Kawan dan juga sahabat tetap setia dalam suka dan duka,
Terus melangkah,,,
Terus merangkak,,,
Dalam mengurai satu cerita indah,,,
Di bumi pertiwi ini,,,
Menyusuri jalan mengejar segala mimpi juga cita-cita
tertinggal juga terjunggal,,,tapi cepat tersadar
Berusaha untuk bisa sejajar,,,
Menangis merintih,,,hati terasa perih,,,
Tapi semangat tetap menyala
Seketika bangkit berbarengan dengan puisi dan melodi,,
Pasrah dengan keadaan tapi tak berputus asa,
Lelah tapi tetap tidak menyerah
Melangkah,,,meski dengan setapak
Tapi yakin kelak kan kudekap,,,
Meski sulit,berkelit,licin melilit lilit,,,
Tetap mengalir seperti air ,bersama angin semilir,,,,
Mata berkaca-kaca menahankan dahaga dengan tabah
Tak putus dan henti mengucap doa serta harap,,,
Moga langkah ini tetap pada tujuan mulia,
Kawan dan juga sahabat tetap setia dalam suka dan duka,
Terus melangkah,,,
Terus merangkak,,,
Dalam mengurai satu cerita indah,,,
Di bumi pertiwi ini,,,
Langganan:
Komentar (Atom)